Tampilkan postingan dengan label FF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FF. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Februari 2015

Cinta dalam Cermin

Dalam sebuah komik, aku menemukan sebuah kutipan manis: "Manusia itu seperti cermin. Jika kau tersenyum, orang lain juga akan tersenyum padamu."

Kubacakan kutipan itu kepada teman-temanku. Kemudian, salah satu dari mereka bertanya, "Bagaimana dengan cinta? Apa jika aku mencintai seseorang, maka cintaku akan terbalaskan?"

"Lagi-lagi soal cinta," ujar teman-teman yang lain sambil nyengir. Temanku yang satu itu memang senang membahas tentang cinta. Tapi anehnya, aku belum pernah melihat seorang perempuan yang berhasil membuatnya jatuh hati.

Sambil memasukkan komik itu ke dalam tas, aku menjelaskan, "Jika cermin itu jernih, cintamu bisa saja terbalaskan. Tapi jika cermin itu buram, dia tidak mampu menyerap rasa cinta sedalam yang kau rasakan untuk dipantulkan kembali padamu." Tanpa sengaja kami bersitatap setelah aku memakai ranselku kembali.

"Jika cermin itu buram, bagaimana membuatnya jernih?" tanyanya lagi.

"Entahlah. Mungkin kau perlu berusaha lebih keras hingga cermin itu jernih kembali."

"Baiklah. Aku akan lebih berusaha agar cerminmu bisa memantulkan perasaan yang selalu kupendam selama ini." []

Jumat, 19 September 2014

KEHILANGAN

"Suamiku, mengapa engkau meninggalkanku?!" teriak seorang perempuan dari bawah tanah merah yang masih basah. Sang suami hanya berlalu dengan wanita baru.


Jumat, 12 September 2014

SANG PENYELAMAT


Bangun pagi bukanlah hal berat bagiku. Namun berangkat cepatlah yang menjadi hal tersulit. Dan tiba sebelum gerbang sekolah ditutup adalah keberuntunganku selama sekolah. Teman-temanku sudah terbiasa dengan hal itu. Mereka malah terkejut jika aku tiba lebih dulu dibandingkan mereka. Menurut mereka, sebuah keajaiban jika aku tiba di sekolah sebelum jam tujuh.   

Meski sering terlambat ke sekolah, tapi aku masih mampu melewati gerbang sekolah yang dijaga oleh seorang satpam itu. Kadang aku masuk beberapa detik sebelum gerbang ditutup, kadang aku masuk diam-diam. Beberapa kali keberuntunganku lenyap. Aku gagal masuk ke sekolah. Alhasil, aku tidak boleh masuk sampai jam sekolah usai.

Sebenarnya aku bingung dengan peraturan di sekolah ini. Siswa yang terlambat dilarang masuk sama sekali. Padahal, kami cuma terlambat pada jam pertama. Tapi, kami tidak diizinkan mengikuti keempat pelajaran selama hari itu. Sementara itu, beberapa siswa yang tergolong nakal seringkali tidak mengikuti pelajaran meski mereka tiba tepat waktu. Bukankah lebih baik jika kami diikutkan pada pelajaran selanjutnya meski harus absen di jam pertama ketimbang harus bolos seperti mereka?

Minggu, 23 Februari 2014

Cerita Mini: Guru Ngaji


“Assalamualaikum,” kataku sambil mengangkat gagang telepon.

“Waalaikumsalam,” jawab seseorang dengan nada akrab. Dari suaranya aku tahu beliau adalah guru mengajiku di TPA Ali Imran.  Beliau baru saja mengobrol dengan kakakku yang waktu itu adalah anggota remaja masjid setempat.

“Iya, ustadz. Ada apa?” tanyaku.

“Kamu rajin shalat, kan?”

“Iya, dong!” jawabku mantap.

“Lima waktu?”

Suaraku semakin pelan, “Iya.”

“Bohong...”

Aku tersentak! Suaraku tiba-tiba terasa berat. Pada akhirnya, aku tak mampu berbohong. Dengan terbata, aku pun menjawab, “I-iya, Ustadz.”

Begitulah cara beliau mengontrolku sebagai salah seorang santriwati andalannya. Aku pun dinasehati habis-habisan setelah itu. Aku hanya bisa nyengir sambil menahan malu. Aku sangat menghormatinya. Menurutku beliau adalah guru yang mengagumkan. Beliau tidak hanya sekedar mengajar kami mengaji dengan fasih, tapi juga menuntun kami untuk mempelajari agama dengan lebih baik lagi. Karenanya pulalah aku mendapatkan ilmu tentang berhijab dan istiqomah mengenakannya hingga kini. [] 


Sabtu, 28 Desember 2013

Mohon Ayah ♡ Ibu


Aku adalah seorang anak kecil berumur 5 tahun. Ini tahun pertamaku di TK. Aku berhasil mendapatkan peringkat 1 dan sudah bisa membaca. Di rumah, aku senang membaca & belajar menulis.

Suatu hari, ketika berjalan-jalan bersama ayah & ibu, aku melihat sebuah pesan bertuliskan "Mohon untuk tidak disentuh.". Baru kali ini aku mendengar kata mohon. Jadi, kutanyakan pada ayah apa maksud kalimat itu. Kata ayah, mohon itu sama dengan tolong. Jadi kalimat itu artinya tolong jangan disentuh.

Sepulang dari jalan-jalan, aku lalu mengambil kertas dan pensil. Kutuliskan sebuah kalimat: Mohon ayah ♡ ibu. Mungkin terdengar lucu dan terlalu dewasa. Aku tahu, lambang itu artinya cinta yang juga berarti suka. Aku memang bermaksud memohon kepada ayah untuk selalu mencintai ibu.

Dengan bangganya, kuperlihatkan tulisanku itu kepada ayah. Aku senang ayah menyanjungku. Aku pun berlalu dan meninggalkan kertas itu bersama ayah.

Oh, tidak! Aku lupa mengambil pensilku. Aku berbalik untuk mencari pensilku. Mungkin pensilku tertinggal di atas meja. Pada saat itu, aku melihat ayah merobek kertasku. Aku tidak tahu kenapa. Ayah pun bangkit dari duduknya. Aku mendekat mengambil pensilku. Tampaknya ayah tidak melihatku memperhatikannya tadi.

Hampir setiap hari kulihat ayah & ibu bertengkar. "Ayah menyiksa ibu!" Itu yang kukatakan pada bunda-bundaku. Ada yang tertawa mengira aku hanya bercanda, ada pula yang meringis tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Orangtuaku pun tidak menegur perkataanku. Aku jadi berpikir sepertinya ayah memang benar menyiksa ibu. Dan ayah tidak peduli padaku yang selalu melihatnya bertengkar.

Ayah selalu membuat ibu menangis. Apa ibu memang salah? Sebenarnya siapa yang salah? Masalahnya saja aku tak tahu. Aku memang masih kecil. Tapi aku sudah punya perasaan sejak lahir. Tentu saja. Meski aku tidak tahu alasannya, tapi aku bisa membedakan perasaan baik dan tidak baik yang dirasakan ibu dan ayah. Tapi mengapa tidak ada yang memikirkan perasaanku? 

Aku tidak putus asa. Kutulis lagi kalimat yang sama ketika sedang berkunjung ke rumah nenek. Aku senang kali ini ayah tidak merobeknya. Tapi ayah bahkan tidak peduli dengan tulisanku itu. Aku terdiam menahan sakit di dalam sini. Tuhan, aku pasrah.


Selasa, 15 Oktober 2013

Menjamu Senja

Hai, Senja. Terima kasih hari ini kau mau datang lagi. Adakah cerita yang kaubawa hari ini? Aku sedang takpunya cerita untukmu. Biarkan aku menjadi penikmat senja tanpa celoteh sore ini.

Minggu, 13 Oktober 2013

Senja Milikku

Senja adalah kekasihku. Ia mempertemukanku denganmu. Mempertemukan kita yang baru menyadari bahwa pertemuan itu berlanjut sampai saat ini. Aku melihatmu sedang berlatih di pinggir lapangan sekolah bersama kawan-kawanmu. Katamu, kamu melihatku saat itu. Aku yakin, aku juga melihatmu. Tapi, aku belum memperhatikanmu. Aku tidak ingat tentang itu. Tapi senja menyimpan memori itu. Selanjutnya, perkenalan pun berlanjut hingga hari ini. Senja selalu menemani pertemuan kita. Kuharap senja tidak meninggalkan kisah tentang kita.
***

Senja adalah sahabatku. Ia menyimpan banyak cerita. Kuingat, perpisahanku dengannya waktu itu juga ketika senja. Senja memandangi kami bersama pasukan burung-burung yang siap kembali ke sarangnya. Senja melihat kami berpamitan. Ia mengirimkan pelangi beberapa saat setelah kami berpisah, seakan ikut mengucapkan selamat tinggal padanya. Oh, tidak. Itu bukan ucapan selamat tinggal. Itu adalah pesan bahwa dimanapun sahabatku itu berada, senja akan selalu menghampirinya.
***

Rabu, 09 Oktober 2013

Kamu

Malam ini begitu sunyi. Bahkan gemintang tak mau menemaniku mengintip langit. Namun tiba-tiba engkau datang dengan senyuman khasmu. Duduk di sisiku, menatap langit bersamaku. Bukan aku yang menyuruhmu kemari. Aku bahkan tak pernah berpikir untuk memanggilmu. Mungkin hatikulah yang berhasil mendatangkanmu malam ini. Karena aku tahu, ragamu takkan pernah bisa hadir mendampingiku.



Sabtu, 01 Juni 2013

Bintang dan Pelangi

Ketika kaubilang senang memandangi gemintang, kucoba memandanginya tiap malam, hingga akhirnya kumulai menyukai bintang-bintang itu. Apakah ini tandanya aku mulai menyukaimu?

Kata Dibs, setiap orang seharusnya mempunyai bintangnya sendiri. Kurasa kamu setuju dengannya. Sementara diriku tidak, mungkin belum. Aku sudah menyukai gemintang, tapi belum menunjuk satu bintang spesial untukku.

Setelah kurenungkan, kurasa aku hanya memaksakan diri untuk menyukaimu. Aku sebenarnya lebih senang melihat pelangi. Warnanya seakan membentangkan berbagai hasrat dalam jiwaku - tentang impian, cita-cita, dan harapan.

Aku pun menyadari satu hal: bintangmu dan pelangiku tak mungkin bersatu. Mereka bertolak belakang. Seperti kamu dan aku yang tak pernah bisa sepaham.

Aku tersadar. Selama ini aku ternyata memiliki sebuah bintang yang tak pernah berpisah dengan pelangi. Bintang yang selalu menantiku meski aku menghilang di langit biru. Dia, matahariku.

Senin, 24 Desember 2012

TERIMA KASIH IBU

Suatu hari, aku ingin berbelanja ke toko buku Gramedia. Karena saudara-saudaraku sedang sibuk, aku pun berniat untuk pergi seorang diri. Seperti biasa, sebelum berangkat aku meminta izin kepada ayah dan ibu.

Ibu tampak resah melihatku ingin keluar sendirian. Beliau pun menyatakan keinginannya untuk menemaniku ke sana. Aku sebenarnya tidak ingin ibu pergi. Bukan karena risih ataupun malu, tapi karena kondisi ibu yang kurang sehat. 

Aku menolak. Kukatakan kalau aku bisa pergi sendiri. Aku sudah besar, sudah bisa jaga diri. Kuminta ibu untuk beristirahat saja di rumah. Namun, ibuku tetap bersikeras untuk ikut. Beliau mengatakan kalau beliau baik-baik saja. Karena aku tidak bisa memberikan alasan lain, aku pun setuju untuk ditemani oleh ibu.

Sesampainya di sana, ibu menemaniku berkeliling toko buku. Satu jam berlalu. Aku sudah memilih beberapa buku untuk kubeli. Ibu tampaknya mulai lelah berdiri. Sayangnya, waktu itu belum ada tempat duduk di toko buku itu. Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama di sana, menikmati suasananya yang tenang sembari membaca buku yang segelnya telah terbuka. Tetapi, aku tak mungkin membiarkan ibu kelelahan berdiri.

Ibu sudah tak bisa berdiri apalagi berjalan terlalu lama. Beliau pernah menderita penyakit lumpuh, dan hingga saat ini kesehatannya belum seratus persen pulih kembali. Karena tak ingin ibu sakit lagi, aku segera membayar buku-buku pilihanku di kasir. Setelah itu, kami singgah di sebuah restoran untuk makan siang lalu pulang ke rumah.

Terima kasih, ibu. Aku sungguh tersentuh melihat betapa sayangnya engkau kepadaku. Engkau rela melupakan sakitmu demi menemaniku berbelanja. Aku sayang padamu, Ibu. Semoga Allah selalu mencurahkan kesehatan kepada ibu agar kita bisa berjalan-jalan dengan santai seperti sediakala.



(*) Diikutkan dalam kuis FTS dalam rangka Hari Ibu oleh Kaifa Organizing. Alhamdulillah MENANG & berhadiah buku ^_^

Jumat, 23 November 2012

KESEMPATAN KEDUA


“Siapa itu Pratiwi?” tanyaku keheranan.

Rei terdiam. “Dia orang yang pernah menyatakan perasaannya padaku.”

“What?!! Apa dia tidak tahu dengan hubungan kita?”

“Dia tahu. Tapi dia rela menjadi yang kedua,” kata kekasihku lagi. Suaranya melemah. Bahunya bergetar. “Maafkan aku. Aku khilaf. Aku hampir menerimanya saat itu,” katanya terisak.

Pengakuannya serasa menusuk jantungku. Jika ini panah, pasti aku telah mati dibuatnya. Lidahku kelu. Mataku mulai menitikkan bulir hangat. Dia melanjutkan, “Tapi, ketika akan menjawab ‘ya’ padanya, bayang wajahmu tersenyum padaku. Perasaan bersalah kemudian menyadarkanku. Mengingatkan tentang komitmen yang kita buat, perjuangan yang kita lalui, dan yang terpenting, menyadarkanku betapa berharganya dirimu.”

“Jadi, kamu menolaknya?”

Dia mengangguk. “Sudah lama ingin kuceritakan namun aku tak sanggup.” Dia menatapku sedih, “Aku tahu aku yang salah. Aku siap menerima konsekuensinya.”

“Lalu mengapa kamu mengakuinya sekarang?”

“Kurasa jujur lebih baik meski itu menyakitkan. Aku tak ingin menyembunyikan apapun darimu.”

“Ini memang sangat menyakitkan. Tapi, terima kasih telah berani mengakuinya dan menolaknya demi aku. Sekarang, aku harus berbagi singgasana di hatimu sampai ia benar-benar kau lupakan.”

Kekecewaan menyelimutiku. Namun, kejujurannya meluluhkanku. Setiap orang pernah berbuat salah. Aku pun memberinya kesempatan kedua karena cintaku lebih besar daripada kecewaku.

Sabtu, 17 November 2012

JENUH (?)

Akankah perasaan yang pernah ternodai mampu kembali seperti sediakala?
Mampukah kita tuk merajut cinta kembali? Tuk memulainya dari awal lagi?
Kita mengiyakan dan yakin bahwa apa pun yang terjadi, rasa sayang ini kan tetap utuh.
Terima kasih telah menjaga hatimu untukku ketika 'dia' ingin menggantiku di hatimu.

Jenuh adalah tantangan dalam suatu hubungan.
Semua orang pasti akan mengalaminya.
Pertanyaannya, mampukah mereka melewatinya?
Entahlah.
Pertanyaannya, mampukah kita melewatinya?
Kuharap iya.
Dan sekarang, saatnya kita mencoba.
Aku dan kamu.
Hanya kita.

Untuk Mawar Ungu-ku
Untuk Kenshin-ku
Untuk Penjaga Hati-ku
:: Aino Himura

postscript: this problem made me realize that I love you so bad. 


Sabtu, 03 November 2012

LINK EXCHANGE

Inilah Banner Yuphehimura, silahkan copy ke blog anda dan tinggalkan komentar anda agar saya bisa mengecek dan menempatkan link anda pada blog saya ini!!!.


Banner Yuphehimura
<a href="http://yuphehimura.blogspot.com"><img src="http://images.cooltext.com/2825301.png" width="100" height="40" alt="Yuphe Himura" /></a>




Link Yuphehimura

<a href="http://www.yuphehimura.blogspot.com" onMouseover="window.location=this.href">Yuphehimura</a>



bagi anda yang telah memasang banner Yuphehimura, silahkan tinggalkan comment dan liat banner anda di sidebar. Terima kasih.