Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 September 2014

KEHILANGAN

"Suamiku, mengapa engkau meninggalkanku?!" teriak seorang perempuan dari bawah tanah merah yang masih basah. Sang suami hanya berlalu dengan wanita baru.


Minggu, 23 Februari 2014

Cerita Mini: Guru Ngaji


“Assalamualaikum,” kataku sambil mengangkat gagang telepon.

“Waalaikumsalam,” jawab seseorang dengan nada akrab. Dari suaranya aku tahu beliau adalah guru mengajiku di TPA Ali Imran.  Beliau baru saja mengobrol dengan kakakku yang waktu itu adalah anggota remaja masjid setempat.

“Iya, ustadz. Ada apa?” tanyaku.

“Kamu rajin shalat, kan?”

“Iya, dong!” jawabku mantap.

“Lima waktu?”

Suaraku semakin pelan, “Iya.”

“Bohong...”

Aku tersentak! Suaraku tiba-tiba terasa berat. Pada akhirnya, aku tak mampu berbohong. Dengan terbata, aku pun menjawab, “I-iya, Ustadz.”

Begitulah cara beliau mengontrolku sebagai salah seorang santriwati andalannya. Aku pun dinasehati habis-habisan setelah itu. Aku hanya bisa nyengir sambil menahan malu. Aku sangat menghormatinya. Menurutku beliau adalah guru yang mengagumkan. Beliau tidak hanya sekedar mengajar kami mengaji dengan fasih, tapi juga menuntun kami untuk mempelajari agama dengan lebih baik lagi. Karenanya pulalah aku mendapatkan ilmu tentang berhijab dan istiqomah mengenakannya hingga kini. [] 


Sabtu, 28 Desember 2013

Mohon Ayah ♡ Ibu


Aku adalah seorang anak kecil berumur 5 tahun. Ini tahun pertamaku di TK. Aku berhasil mendapatkan peringkat 1 dan sudah bisa membaca. Di rumah, aku senang membaca & belajar menulis.

Suatu hari, ketika berjalan-jalan bersama ayah & ibu, aku melihat sebuah pesan bertuliskan "Mohon untuk tidak disentuh.". Baru kali ini aku mendengar kata mohon. Jadi, kutanyakan pada ayah apa maksud kalimat itu. Kata ayah, mohon itu sama dengan tolong. Jadi kalimat itu artinya tolong jangan disentuh.

Sepulang dari jalan-jalan, aku lalu mengambil kertas dan pensil. Kutuliskan sebuah kalimat: Mohon ayah ♡ ibu. Mungkin terdengar lucu dan terlalu dewasa. Aku tahu, lambang itu artinya cinta yang juga berarti suka. Aku memang bermaksud memohon kepada ayah untuk selalu mencintai ibu.

Dengan bangganya, kuperlihatkan tulisanku itu kepada ayah. Aku senang ayah menyanjungku. Aku pun berlalu dan meninggalkan kertas itu bersama ayah.

Oh, tidak! Aku lupa mengambil pensilku. Aku berbalik untuk mencari pensilku. Mungkin pensilku tertinggal di atas meja. Pada saat itu, aku melihat ayah merobek kertasku. Aku tidak tahu kenapa. Ayah pun bangkit dari duduknya. Aku mendekat mengambil pensilku. Tampaknya ayah tidak melihatku memperhatikannya tadi.

Hampir setiap hari kulihat ayah & ibu bertengkar. "Ayah menyiksa ibu!" Itu yang kukatakan pada bunda-bundaku. Ada yang tertawa mengira aku hanya bercanda, ada pula yang meringis tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Orangtuaku pun tidak menegur perkataanku. Aku jadi berpikir sepertinya ayah memang benar menyiksa ibu. Dan ayah tidak peduli padaku yang selalu melihatnya bertengkar.

Ayah selalu membuat ibu menangis. Apa ibu memang salah? Sebenarnya siapa yang salah? Masalahnya saja aku tak tahu. Aku memang masih kecil. Tapi aku sudah punya perasaan sejak lahir. Tentu saja. Meski aku tidak tahu alasannya, tapi aku bisa membedakan perasaan baik dan tidak baik yang dirasakan ibu dan ayah. Tapi mengapa tidak ada yang memikirkan perasaanku? 

Aku tidak putus asa. Kutulis lagi kalimat yang sama ketika sedang berkunjung ke rumah nenek. Aku senang kali ini ayah tidak merobeknya. Tapi ayah bahkan tidak peduli dengan tulisanku itu. Aku terdiam menahan sakit di dalam sini. Tuhan, aku pasrah.


Selasa, 15 Oktober 2013

Menjamu Senja

Hai, Senja. Terima kasih hari ini kau mau datang lagi. Adakah cerita yang kaubawa hari ini? Aku sedang takpunya cerita untukmu. Biarkan aku menjadi penikmat senja tanpa celoteh sore ini.

Rabu, 09 Oktober 2013

Kamu

Malam ini begitu sunyi. Bahkan gemintang tak mau menemaniku mengintip langit. Namun tiba-tiba engkau datang dengan senyuman khasmu. Duduk di sisiku, menatap langit bersamaku. Bukan aku yang menyuruhmu kemari. Aku bahkan tak pernah berpikir untuk memanggilmu. Mungkin hatikulah yang berhasil mendatangkanmu malam ini. Karena aku tahu, ragamu takkan pernah bisa hadir mendampingiku.



Rabu, 12 Juni 2013

Hujan dan Pelangi

Halo, kamu yang di sana!
Akhir-akhir ini Makassar sering hujan.
Tiba-tiba aku teringat, kamu tidak hanya menyukai bintang, tapi juga mencintai hujan. Dan lagi, aku yang dulu takut hujan, kini tidak lagi - karenamu.

Oh, iya. Soal bintang, maafkan aku saat itu. Meski aku tidak punya bintang spesial di malam hari, tapi aku sangat suka menatap bintang yang bertaburan itu. Setiap menatap bintang, aku mengingatmu, mencari bintang favoritmu, tapi terkadang aku sulit membedakannya. Izinkan aku tetap memandangi bintang-bintang di atas sana, ya. Hanya dengan itu aku bisa melihatmu, kawan.

Kok malah ngomongin bintang, ya? Hihi. Oke, kembali ke hujan. Aku, pelangi yang takut pada hujan. Padahal aku hanya bisa nampak setelah hujan hadir. Tapi, kini aku tidak takut lagi. Terima kasih, ya. Aku benar-benar bahagia bisa menjadi adikmu meski itu hanya keinginan sepihak. Haha.

Well, salamku untuk rintik hujan di sana. Pelangiku akan menyapa hari-harimu. :)

Sabtu, 01 Juni 2013

Bintang dan Pelangi

Ketika kaubilang senang memandangi gemintang, kucoba memandanginya tiap malam, hingga akhirnya kumulai menyukai bintang-bintang itu. Apakah ini tandanya aku mulai menyukaimu?

Kata Dibs, setiap orang seharusnya mempunyai bintangnya sendiri. Kurasa kamu setuju dengannya. Sementara diriku tidak, mungkin belum. Aku sudah menyukai gemintang, tapi belum menunjuk satu bintang spesial untukku.

Setelah kurenungkan, kurasa aku hanya memaksakan diri untuk menyukaimu. Aku sebenarnya lebih senang melihat pelangi. Warnanya seakan membentangkan berbagai hasrat dalam jiwaku - tentang impian, cita-cita, dan harapan.

Aku pun menyadari satu hal: bintangmu dan pelangiku tak mungkin bersatu. Mereka bertolak belakang. Seperti kamu dan aku yang tak pernah bisa sepaham.

Aku tersadar. Selama ini aku ternyata memiliki sebuah bintang yang tak pernah berpisah dengan pelangi. Bintang yang selalu menantiku meski aku menghilang di langit biru. Dia, matahariku.

Senin, 24 Desember 2012

TERIMA KASIH IBU

Suatu hari, aku ingin berbelanja ke toko buku Gramedia. Karena saudara-saudaraku sedang sibuk, aku pun berniat untuk pergi seorang diri. Seperti biasa, sebelum berangkat aku meminta izin kepada ayah dan ibu.

Ibu tampak resah melihatku ingin keluar sendirian. Beliau pun menyatakan keinginannya untuk menemaniku ke sana. Aku sebenarnya tidak ingin ibu pergi. Bukan karena risih ataupun malu, tapi karena kondisi ibu yang kurang sehat. 

Aku menolak. Kukatakan kalau aku bisa pergi sendiri. Aku sudah besar, sudah bisa jaga diri. Kuminta ibu untuk beristirahat saja di rumah. Namun, ibuku tetap bersikeras untuk ikut. Beliau mengatakan kalau beliau baik-baik saja. Karena aku tidak bisa memberikan alasan lain, aku pun setuju untuk ditemani oleh ibu.

Sesampainya di sana, ibu menemaniku berkeliling toko buku. Satu jam berlalu. Aku sudah memilih beberapa buku untuk kubeli. Ibu tampaknya mulai lelah berdiri. Sayangnya, waktu itu belum ada tempat duduk di toko buku itu. Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama di sana, menikmati suasananya yang tenang sembari membaca buku yang segelnya telah terbuka. Tetapi, aku tak mungkin membiarkan ibu kelelahan berdiri.

Ibu sudah tak bisa berdiri apalagi berjalan terlalu lama. Beliau pernah menderita penyakit lumpuh, dan hingga saat ini kesehatannya belum seratus persen pulih kembali. Karena tak ingin ibu sakit lagi, aku segera membayar buku-buku pilihanku di kasir. Setelah itu, kami singgah di sebuah restoran untuk makan siang lalu pulang ke rumah.

Terima kasih, ibu. Aku sungguh tersentuh melihat betapa sayangnya engkau kepadaku. Engkau rela melupakan sakitmu demi menemaniku berbelanja. Aku sayang padamu, Ibu. Semoga Allah selalu mencurahkan kesehatan kepada ibu agar kita bisa berjalan-jalan dengan santai seperti sediakala.



(*) Diikutkan dalam kuis FTS dalam rangka Hari Ibu oleh Kaifa Organizing. Alhamdulillah MENANG & berhadiah buku ^_^

Rabu, 19 Desember 2012

NIJI

“Ame...” katamu memulai obrolan dari seberang sana.

Kau selalu mengabarkanku tiap kali hujan turun. Ame berarti hujan dalam bahasa Jepang. Kau sangat menyukai hujan.

“Benarkah? Aku ingin melihat niji. Tapi di sini hujan belum turun,” balasku sedih.

Suasana hatiku sedang buruk. Aku berharap bisa melihat pelangi untuk membuatku ceria. Aku sedang punya masalah. Telah kuberitahukan padamu sebelumnya. Sayangnya, kau juga tak punya solusi untuk itu. Namun, keberadaanmu bagai awan yang meneduhkanku. Aku cukup tenang karenanya.

“Nampaknya orang-orang sedang menikmatinya saat ini. Kau juga akan melihatnya sebentar,” ujarmu.

“Bagaimana mungkin? Di sini kan sedang tidak hujan,” keluhku.

“Terlalu banyak kabut yang menyelimutimu sehingga pelangi itu tak mampu kau lihat. Cobalah untuk melepaskan kabut itu,” balasmu lagi.

Awalnya, aku tak paham. Namun, kini aku mengerti. Aku tak seharusnya membiarkan kabut itu menyelimutiku. Sebaliknya, aku harus bisa menciptakan pelangiku sendiri agar hatiku kembali cerah seperti langit biru di angkasa.





Yuphe Himura – nama pena dari Ayu Pertiwi. Terlahir pada tanggal 8 Februari 1992. Berstatus sebagai mahasiswi FBS UNM. Kunjungi akunnya via facebook: www.facebook.com/ayuhimura, twitter: @yuphehimura, email: yuphehimura@gmail.com, atau blog: http://yuphehimura.blogspot.com.

Jumat, 23 November 2012

KESEMPATAN KEDUA


“Siapa itu Pratiwi?” tanyaku keheranan.

Rei terdiam. “Dia orang yang pernah menyatakan perasaannya padaku.”

“What?!! Apa dia tidak tahu dengan hubungan kita?”

“Dia tahu. Tapi dia rela menjadi yang kedua,” kata kekasihku lagi. Suaranya melemah. Bahunya bergetar. “Maafkan aku. Aku khilaf. Aku hampir menerimanya saat itu,” katanya terisak.

Pengakuannya serasa menusuk jantungku. Jika ini panah, pasti aku telah mati dibuatnya. Lidahku kelu. Mataku mulai menitikkan bulir hangat. Dia melanjutkan, “Tapi, ketika akan menjawab ‘ya’ padanya, bayang wajahmu tersenyum padaku. Perasaan bersalah kemudian menyadarkanku. Mengingatkan tentang komitmen yang kita buat, perjuangan yang kita lalui, dan yang terpenting, menyadarkanku betapa berharganya dirimu.”

“Jadi, kamu menolaknya?”

Dia mengangguk. “Sudah lama ingin kuceritakan namun aku tak sanggup.” Dia menatapku sedih, “Aku tahu aku yang salah. Aku siap menerima konsekuensinya.”

“Lalu mengapa kamu mengakuinya sekarang?”

“Kurasa jujur lebih baik meski itu menyakitkan. Aku tak ingin menyembunyikan apapun darimu.”

“Ini memang sangat menyakitkan. Tapi, terima kasih telah berani mengakuinya dan menolaknya demi aku. Sekarang, aku harus berbagi singgasana di hatimu sampai ia benar-benar kau lupakan.”

Kekecewaan menyelimutiku. Namun, kejujurannya meluluhkanku. Setiap orang pernah berbuat salah. Aku pun memberinya kesempatan kedua karena cintaku lebih besar daripada kecewaku.

Sabtu, 10 November 2012

KAU TELAH PERGI

Pukul satu dini hari. Setumpuk tugas kuliah menemaniku begadang. Ah, bukan. Merekalah yang membuatku belum boleh terlelap saat ini. Heningnya suasana di rumah membuatku terkantuk untuk kesekian kali. Padahal, aku sudah membuat segelas kopi toraja kesukaanku. Sayangnya, kopi buatanku sudah habis tapi tugasku belum juga selesai. Aku pun berpikir sepertinya alunan lagu bisa sedikit menyemangatiku. Karena sudah bosan mendengarkan lagu dari mp3 player-ku, aku memutuskan untuk mendengarkan radio.
Setelah berulang kali menyetel radio, akhirnya aku menemukan saluran radio yang masih menyiar di tengah malam seperti ini. Terdengar alunan merdu tembang lawas milik grup band Caffeine yang berjudul Kau Yang Telah Pergi. Lagu yang berkisah tentang penyesalan seseorang terhadap kekasihnya yang pergi untuk selamanya. Namun, ia belum sempat meminta maaf pada kekasihnya itu.
Kau yang t’lah pergi
Saat-saat terakhirku
Teringat denganmu
Yang terbayang kini
Tanpa kusadari, butiran air mataku membasahi lembar makalahku. Aku terhanyut dalam alunannya. Syairnya mengingatkanku pada seseorang. Dia bukan kekasihku. Tapi dia sahabat tercintaku. Dalam sekejap, bayangan tentangnya lima tahun yang lalu kembali merasuki pikiranku.
***
“Wulan!!” Suara yang terdengar akrab memanggilku ketika aku hendak masuk ke rumah. Aku berbalik. Sesosok gadis berkulit sawo matang melambai dari jauh. “Hey!” kataku terkejut melihat kedatangannya. Dia datang bersama Feby yang juga teman esempe-ku. Aku tersenyum lebar sambil menunggu mereka turun dari motor. Wajah Linda terlihat makin cantik dan bersinar, sementara Feby nampak lebih langsing dan putih.
Linda. Sahabatku. Kami berkenalan di SMP Garuda, tempat kami bersekolah. Sayangnya, komunikasi kami makin renggang ketika duduk di bangku SMA. Pada awal semester kedua hapeku terjatuh di angkot. Ini membuatku tidak bisa menghubungi teman-teman lamaku, termasuk Linda dan Feby.
“Kalian dari mana?” tanyaku sambil membawa tiga kaleng minuman dingin.
“Tadi aku jemput Linda di rumahnya sebelum kemari,” jawab Feby.
“Maaf, aku minum air putih saja,”  Linda menolak ketika kuberikan sekaleng soda.
“Lho, kenapa?” tanyaku heran.
“Aku takut kalo penyakit maag-ku kambuh, Lan,” kata Linda.
Aku lupa kalau Linda punya penyakit maag. Aku pun masuk mengambilkan segelas air putih untuk Linda. Sore itu kami habiskan dengan beragam obrolan seru sambil ngemil cookies buatan mama. Linda terlihat sangat bahagia hari itu. Dia bercerita bahwa kedua orang tuanya telah akur kembali. Linda juga bercerita kalau dia baru saja pulang dari Solo, kampung halamannya yang baru didatanginya untuk pertama kalinya. Dia sangat senang karena bisa bertemu keluarga besarnya di sana.
Aku turut bahagia mendengarnya. Akhirnya Linda bisa tersenyum puas. Tiga tahun ia telah menderita akibat pertengkaran orang tuanya. Sakit maag yang dideritanya juga akibat pertengkaran itu. Tak jarang ia ditinggal sendirian di rumah. Kakaknya pun jarang pulang. Karenanya, Linda menjadi anak yang tidak terurus. Untunglah Linda tidak pernah berpikir untuk melakukan hal buruk. Dia terus berdoa. Dia yakin keluarganya akan utuh kembali. Doanya selama ini akhirnya terjawab. Keharmonisan keluarganya kembali seperti sedia kala.
***
“Drrrtt... Drrrtt..” Hapeku bergetar ketika pelajaran sedang berlangsung. Ada satu pesan dari Linda. Kubuka sms itu dengan hati-hati. Takut ketahuan guru.
“Lan, aku lagi dirawat di rumkit. Aku kena penyakit usus buntu. Doakan cepat sembuh, ya? J ”
Deg! SMS itu mengejutkanku. Sejak kapan Linda mengalami usus buntu? Aku tak tahu. Sebulan yang lalu kulihat Linda baik-baik saja di rumah. Namun, sejak saat itu aku dan Linda jarang berkomunikasi lagi.
“Lan, kamu kapan ke sini? Aku tunggu, ya! Besok aku dioperasi. Doakan lancar, ya!”
Aku pun membalas sms itu. “Iya. Aku usahakan, ya. Kalau ada yang nganterin. Tunggu aku, ya?!! Semangat!!!”
Aku adalah anak rumahan yang cuma tahu rute kampus-rumah dan pergi-pulang naik angkot. Kegiatan di sekolah menghabiskan waktu sampai sekitar pukul empat sore. Sementara jam besuk ditutup pukul lima sore. Meski kupaksakan untuk naik angkot, aku tetap tidak bisa menemuinya. Butuh waktu sekitar 45 menit atau lebih untuk bisa sampai ke rumah sakit. Karena tidak ada yang bisa mengantar, aku pun menunda kunjunganku ke rumah sakit.
Linda kembali menghubungiku sehari setelah operasi. Aku pun berjanji akan menjenguknya dalam waktu dekat. Aku sungguh ingin menemuinya, tapi aku tak berani untuk pergi ke sana sendirian.
Seminggu berlalu. Aku selalu menanyakan kabar Linda tiap hari. Dia tetap tersenyum di tiap smsnya, tetap ceria ketika teleponan denganku. Tapi aku tahu, di sana dia pasti sangat kecewa karena aku belum juga menemuinya. Sepertinya aku bukan sahabat yang baik. Aku terus-menerus minta maaf, namun dia melarangku. Dia mengerti dengan keadaanku. Linda berkata bahwa tidak ada yang salah. Hanya waktunya saja yang tidak ketemu.
Linda berkata padaku kalau ia akan dioperasi lagi keesokan harinya karena operasi yang lalu gagal. Firasatku mulai tak enak. Baru kali ini aku mendengar penderita usus buntu dioperasi lebih dari sekali dengan waktu jeda hanya sekitar tujuh hari dari operasi pertama. Aku memang bukan orang yang paham tentang hal ini. Tapi, firasatku tetap saja kurang baik.
Akhirnya operasi kedua selesai dilaksanakan di sore hari. Kak Mira mengabariku atas permintaan Linda. Katanya tidak ada perubahan apa-apa yang terjadi pada tubuh Linda. Aku semakin khawatir. Keesokan paginya, Kak Mira meneleponku sambil terisak. Dia berkata bahwa Linda pergi untuk selamanya. Hatiku hancur. Aku belum sempat menemuinya hingga hembusan terakhir napasnya. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya tangisan yang saat itu mampu melampiaskan perasaanku. Perasaan sedih karena kehilangan seorang sahabat, dan perasaan bersalah karena tidak menepati janji untuk menemuinya.
***
Tak kusangka akhir kisahnya sepilu ini. Kepergiannya menyiksa batinku sampai saat ini. Janjiku untuk menengoknya di rumah sakit tak pernah kutepati. Aku terlalu takut untuk mengorbankan waktuku dan melanggar sedikit peraturan di rumah.
Sejak hari pertama ia dirawat di rumah sakit, sejak hari itu pula aku tak pernah bertemu dengannya hingga kedukaan memayungi pertemuan kami untuk terakhir kalinya. Ah, bukan. Aku memang menemuinya, tapi dia tidak menyadarinya. Itu tidak pantas untuk dinamakan pertemuan. Aku juga tak pantas untuk dinamakan sahabat. Setangkup penyesalan hinggap di hatiku. Kini, lantunan kidung lawas itu menyesakkanku. Kau telah pergi tinggalkan maaf yang tak terucap dan takkan kembali, tersimpan kini janjiku di hati.
Dengan mata yang masih sembab akibat semalam, aku mengunjungi makamnya. Tangisku kembali meluap. Membasahi tanah tempat peristirahatan terakhirnya. Aku terus-menerus meminta maaf di depan makamnya, namun ku tahu dia takkan bisa lagi menjawab maafku. Karena itu, kupanjatkan doa untuknya sebagai pengganti maafku.
“Berhentilah bersedih. Tak ada gunanya menyesal. Semuanya sudah berlalu. Kamu hanya akan membuat orang-orang yang menyayangimu khawatir. Lebih baik sekarang kamu memperbaiki diri, menatap masa depan, dan meraih cita-citamu. Aku yakin, Linda akan bahagia di sana jika melihat sahabatnya bahagia.”
Kata-kata yang diucapkan oleh Kak Mira menyadarkanku bahwa penyesalan hanya akan membuat seseorang semakin terpuruk dalam kesedihan. Padahal masih banyak orang-orang yang mencintai kita dan harus kita bahagiakan. Kini saatnya aku bangkit untuk meraih impianku dan mempersembahkannya untuk mereka yang kucintai dan mencintaiku, terutama keluargaku dan sahabat-sahabatku. Selamat tinggal, Sobat. Meski jasadmu telah bersemayam, namun kenangan tentangmu tetap terukir di hatiku.

TAMAT
(Diikutsertakan dalam Antologi Cerpen Episode Duka - Deka Publisher - 2012)