Selasa, 24 Februari 2015

Demi Orangtua Kami

Kepada Anda yang sedang bertugas.

Anda pasti tahu seperti apa rasanya menunggu. Dan kami yakin, Anda tidak suka dibuat menunggu. Tapi mengapa Anda malah selalu ingin ditunggu? Kami sama seperti Anda: tak suka menunggu.

Anda pasti tahu seperti apa perasaan orangtua yang harap-harap-cemas menanti pesta kelulusan anaknya. Memang, kami sudah lulus secara resmi dan orangtua kami berbahagia--meski kami sudah terlambat setahun. Tapi memakai toga dan jubah pun adalah sebuah bentuk terima kasih kami untuk dipersembahkan kepada orangtua kami yang ingin mendampingi di hari bersejerarah itu. Lalu, Anda dengan mudahnya berkata tidak mengapa jika kami tidak ikut wisuda kali ini. Anda bilang kami baru bisa wisuda pada wisuda angkatan selanjutnya. Padahal kami sudah melewati yudisium beberapa waktu yang lalu. Betapa teganya Anda membuat kami menunggu. Betapa teganya Anda mengecewakan harapan kedua orangtua kami.

Kepada Anda yang bertanggung jawab, kami mohon segerakanlah. Kami tahu pekerjaan Anda tidak mudah. Tapi tolong bekerjalah tepat waktu. Kami bersedia membantu jika Anda butuh. Tapi Anda melarang. Kami maklum, dulu ada orang yang memanipulasi nilainya dengan motif membantu Anda. Tapi berusahalah, sementara kami mendoakan. Bukankah semua ini menjadi terlambat karena Anda tidak fokus pada pekerjaan Anda sendiri--datang dan pergi seenaknya pada jam kerja. Lalu sekarang Anda mau melemparkan akibatnya kepada kami?

Kami tidak tahu apa yang Anda kerjakan di luar sana. Tapi tolong jangan mengesampingkan kami yan menunggu berjam-jam hanya demi selembar kertas.

Jika Anda tidak bersedia bekerja demi kami, kerjakanlah demi orangtua-orangtua kami yang telah membiayai pendidikan kami.

Kepada Anda yang bertugas, bekerjalah dengan baik agar kampus ini dapat dibanggakan berkat kinerja Anda.

Surat ini kami kirimkan karena kami menyayangi kampus kami, bukan karena membenci Anda. Kami bahkan tak ingin Anda kehilangan pekerjaan. Dan kami juga tak ingin hal yang terjadi pada kami juga menimpa adik-adik angkatan kami.

Sampaikan salam kami kepada keluarga Anda. Semoga anak-anak Anda kelak tidak dipersulit seperti kami ketika kuliah nanti.

Salam hormat,
Dari kami yang ingin membahagiakan kedua orangtua.

(23.02.2015)

Cinta dalam Cermin

Dalam sebuah komik, aku menemukan sebuah kutipan manis: "Manusia itu seperti cermin. Jika kau tersenyum, orang lain juga akan tersenyum padamu."

Kubacakan kutipan itu kepada teman-temanku. Kemudian, salah satu dari mereka bertanya, "Bagaimana dengan cinta? Apa jika aku mencintai seseorang, maka cintaku akan terbalaskan?"

"Lagi-lagi soal cinta," ujar teman-teman yang lain sambil nyengir. Temanku yang satu itu memang senang membahas tentang cinta. Tapi anehnya, aku belum pernah melihat seorang perempuan yang berhasil membuatnya jatuh hati.

Sambil memasukkan komik itu ke dalam tas, aku menjelaskan, "Jika cermin itu jernih, cintamu bisa saja terbalaskan. Tapi jika cermin itu buram, dia tidak mampu menyerap rasa cinta sedalam yang kau rasakan untuk dipantulkan kembali padamu." Tanpa sengaja kami bersitatap setelah aku memakai ranselku kembali.

"Jika cermin itu buram, bagaimana membuatnya jernih?" tanyanya lagi.

"Entahlah. Mungkin kau perlu berusaha lebih keras hingga cermin itu jernih kembali."

"Baiklah. Aku akan lebih berusaha agar cerminmu bisa memantulkan perasaan yang selalu kupendam selama ini." []

Rabu, 18 Februari 2015

Masihkah Aku Sahabatmu?

kepada kau yang kusebut sahabat

Halo, sahabatku. Bagaimana kabarmu? Semoga kau selalu sehat di sana. Kabarku di sini baik-baik saja. Banyak hal yang sudah terjadi tapi akhirnya bisa kulalui dengan susah payah.

Sudah lama aku ingin mengirim surat untukmu. Tapi selalu kuurungkan niatku itu karena aku tak ingin mengganggumu. Meski sudah bertahun-tahun kita tak bertemu, tapi aku selalu memperhatikanmu dari jauh dan mendoakan kesuksesanmu. Kudengar kini kau telah menemukan passion yang sesuai untukmu. Sepertinya kau sangat menikmatinya. Selamat, ya. Akhirnya kau semakin dekat dengan mimpimu.  :)

Kau tahu,aku selalu merindukan kebersamaan kita yang penuh suka-duka. Apakah kau juga merindukanku meski kini kau sudah memiliki teman-teman baru yang punya minat yang sama denganmu? Mungkinkah aku bukan lagi sahabatmu karena jalan kita tak lagi sama? Ataukah sejak awal kau memang tidak menganggapku sahabatmu?

Aku di sini juga sedang memperjuangkan mimpi sepertimu. Tapi aku selalu berharap untuk bisa bertemu denganmu di sela-sela kesibukanku. Bagaimana denganmu? Tak bisakah kau sedikit saja menyempatkan diri untuk bertemu denganku? Atau setidaknya menghubungiku via telepon. Aku selalu berusaha menghubungimu tapi jawabanmu selalu saja sibuk. Apakah aku hanya mengganggumu?

Maafkan keegoisanku ini. Aku hanya tak ingin persahabatan kita renggang, berjarak, dan akhirnya terputus. Aku ingin tetap selamanya bersahabat denganmu karena tak ada seorang pun yang mampu menggantikan tempatmu di hatiku.

Salam rindu,

Seseorang yang menganggapmu sahabat.

(18.02.2015)

Selasa, 17 Februari 2015

Surat Terakhir untuk Nenek

:kepada Nenek di Surga

Assalamualaikum, Nenekku sayang. Bagaimana malam pertama Nenek di sana? Semoga baik-baik saja karena aku tahu selama ini Nenek selalu menanam kebaikan di ladang amal Nenek. Maafkan aku terlambat mengirimi Nenek surat. Nyawaku rasanya belum berkumpul semua setelah mengantarkan Nenek ke tempat peristirahatan terakhir di sana.

Setelah menerima kabar dari tante Rosie pada dua senja kemarin, kami sekeluarga bergegas mengepak barang-barang kami untuk menemui Nenek di Bulukumba. Sayangnya, kami tak mampu berangkat ketika malam merangkak naik. Maafkan kami, Nek. Mama dan Papa juga sedang tidak sehat, sehingga kami baru bisa berangkat kemarin subuh.

Empat jam perjalanan sungguh melelahkan dengan perasaan tidak karuan seperti ini. Sawah hijau yang terhampar dan ombak kecil yang berlarian di lautan luas menemani perjalanan kami. Jika saja kami pergi dengan tujuan menyenangkan, tentu aku akan meminta Kakak untuk singgah sejenak lalu merentangkan tangan, membiarkan hembusan angin menerpa seluruh tubuhku. Tapi kami pergi dengan perasaan duka. Bahkan angin yang sejuk tak mampu menghilangkan raut kesedihan di wajah kami. Mobil pun terus melaju, berusaha sampai ke rumah Nenek secepat mungkin.

Setibanya di rumah Nenek, aku pun masuk bersama keluarga. Kulihat seseorang dengan ciput putih menutupi kepalanya keluar dari kamar Nenek. Kukira itu Nenek. Aku berharap itu Nenek. Sayangnya, itu bukan Nenek.

Kualihkan pandanganku ke tengah ruangan. Di sana kulihat Nenek terbaring berselimut sarung kesayangan Nenek. Hatiku bergetar. Kaki terasa berat melangkah. Sekujur tubuhku gemetar. Seketika itu juga air mataku mengucur deras tak tertahankan. Kupaksakan kakiku melangkah lalu berlari tergopoh memeluk tubuh Nenek yang dingin. Kerinduanku pada Nenek tak terbendung lagi. Aku menangis sejadi-jadinya. Akhirnya aku bertemu dengan Nenek yang amat kurindukan. Tetapi pertemuan itu hanya sepihak. Nenek telah dijemput oleh sang senja. Dan saat itu, tinggal jasad Nenek yang bisa kujumpai. Tangisku tidak berhenti hingga mengantarkan Nenek menuju pusara terakhir.

Nenek ingat semua itu, 'kan? Nenek melihatnya, 'kan? Nenek lihat aku di samping Nenek, 'kan?

Nenek, aku masih ingin bercerita panjang lebar. Tapi aku harus segera kembali menyulam waktu yang turut berduka mengantarkan kepergian Nenek. Aku harus mengumpulkan kekuatanku untuk mampu melanjutkan aktivitas yang tertunda. Aku harus tetap hidup untuk meneruskan kebaikan Nenek kepada orang banyak. Aku akan terus hidup untuk menjaga putra tunggal Nenek dan istrinya yang kupanggil dengan sebutan Papa dan Mama. Aku akan berjuang demi Nenek. Karena itu, Nenek tidak usah khawatir. Beristirahatlah dengan tenang di sana. Kami akan selalu mendoakan Nenek dari jauh. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa Nenek dan menempatkan Nenek bersama Rasulullah dan orang-orang sholeh lainnya.

Salam sayang,

Dari cucu bungsu yang akan selalu mendoakan Nenek.

(17.02.2015)

Sabtu, 14 Februari 2015

Hari Istimewa

'tuk Yang Tersayang

Happy birthday, darl! \^o^/

Alhamdulillah, hari ini kamu menapaki usia 25 tahun. Aku pun baru saja menginjak usia 23 tahun seminggu yang lalu. Ulang tahun kita hanya berjarak seminggu. Kita selalu memperingatinya dalam satu waktu dan saling bertukar kado pada saat itu. Unik, bukan?

Kamu ingat, kita berdua selalu gagal dalam membuat kejutan. Kita sama-sama tidak sabar untuk memberikan sesuatu kepada pasangan, sehingga tidak jarang kita sudah mengetahui isinya sebelum kita bertukar kado. Haha.

Jadi, seperti tahun-tahun kemarin, kamu pasti sudah tahu hadiah apa yang kukirimkan untukmu. Maafkan aku, tak mampu membelikanmu hadiah yang mewah meski aku tahu kamu tak peduli soal itu. Bahkan kamu tak pernah meminta kado dariku. Tapi biarkan aku menyenangkanmu sesekali walau dengan cara yang sederhana.

Di hari yang istimewa ini, aku bersyukur karena Tuhan masih memberikanmu kesempatan untuk hidup, mendampingiku, dan berbuat baik kepada orang banyak.

Doaku, semoga kamu selalu diberi petunjuk dalam setiap langkahmu. Semoga kamu selalu diridhoi dan diberkahi dalam setiap jerih payahmu. Semoga kamu dapat menjadi pribadi yang semakin dewasa, semakin berkharisma, dan semakin rendah hati.

Aku juga berharap semoga kebaikan selalu menyertai setiap hembusan napasmu. Semoga kamu selalu dilindungi dan dijauhkan dari hal-hal buruk yang mencoba mendekatimu. Dan semoga kamu (dan aku) diberkahi umur yang panjang agar kita bisa selalu bersama.

Satu hal lagi, semoga cintamu (dan cintaku) selalu utuh bersama komitmen, kepercayaan, dan kejujuran yang telah kita bina selama ini.

Hari ini aku tidak banyak bercerita. Aku hanya berharap kamu bahagia di hari istimewamu.

Sekali lagi, selamat ulang tahun kuucapkan padamu. Selamat menikmati perjalanan hidupmu. Selamat berjuang untuk masa depan kita. Semangat! :D

Salam hangat,

Belahan jiwamu

(15.02.15)